Mein Traum (My Dream)

“Daku hendak melukis”

Begitu katanya padaku

Toh dia tak punya kuas dan cat

Ia tunjukkan padaku angkasanya

Kemudian melukis di atasnya

Melukis mimpi katanya

Ia mengajarkanku bermimpi. Darinya aku belajar, dan mengajarkan orang untuk bermimpi. He’s the important. He’s the one.

Hampir lima tahun berlalu, dan aku sedang berada dalam jalan mimpiku. Jalan hidupku. Dan inilah yang kupilih. Studi di luar negri, and it never gonna be easy. I just need to be focus.

Aku ingin menjadi penulis, begitu kataku saat berumur dua belas tahun. Aku suka menulis. Itu sejak Bapak mengajarkanku mengetik di komputer, yang pada saat itu masih windows 98. Aku menulis cerita-cerita fantasi, perjalanan Gerrard yang menumpas naga, tujuh bersaudara yang punya kemampuan ajaib. Saat itu, aku duduk di bangku kelas tiga. Umur delapan tahun. Dan aku suka sekali menulis.

Aku, kemudian memiliki dunia fantasiku sendiri. Setelah tiga tahun berurutan menjadi ketua kelas, aku dihormati teman-teman lainnya. Membuatku seakan punya wibawa. Meskipun tidak. Aku masih suka menulis. Dan berkhayal. Menciptakan tokoh-tokoh fiktifku sendiri. Termasuk seekor naga mahadahsyat, Terra Wing Cannondramon. Itu makhluk fantasi bikinanku sendiri. Sampai sekarang masih kusimpan konsep dan gambarnya.

Selain menulis, aku suka menggambar. Menggambar tokoh fantasi. Naga-naga bertanduk, monster-monster aneh. Dan mempunyai permainan sendiri, bukan komputer. But magic box. Kotak tempat ku menyimpan perbendaharaan mimpiku, dunia fantasiku.

Dunia sedikit berubah haluan ketika aku memutuskan untuk masuk pondok. Tidak berhenti menulis dan berfantasi, namun lebih realistis. Karena di pondok, aku menyaksikan realita, manis dan pahitnya.

Kata Bapak, masuk Gontor seperti masuk Hogwarts. Tujuh tahun orang belajar di Gontor, keluar jadi sakti. Karena banyak belajar ‘sihir’, yaitu ilmu. Dan aku tidak berhenti berfantasi di sana. Tahun kedua, masuk menjadi kru warta-kampus, Darussalam Pos. Aku sudah bisa mengetik sepuluh jari.

Sedikit demi sedikit, aku membangun dunia fantasiku sendiri. Menulis novel pertamaku yang belum sempat selesai, The Winggardiomary. Bercerita tentang Noah, seorang pemuda yang harus kehilangan kedua orang tuanya karena dendam perang saudara. Yang kemudian, dalam perjalanannya mencari paman sekaligus pembunuh kedua orang tuanya, bertemu dengan Terra Wing, seekor naga berkekuatan dahsyat yang membantunya menumpaskan misi.

Setelah tiga puluh halaman menulis, dan mungkin itu sepersepuluh perjalanan, tulisanku lenyap. Hilang. Komputer terkena virus, dan datanya hilang. Itu membuatku kecewa. Tapi tetap menulis.

Aku masih menulis, namun tidak lagi fantasi. Negeri fantasiku kusimpan dalam magic box. Kutinggal sementara. Sementara diriku, menatap realita. Menatap orang-orang besar, orang berpengaruh.

Aku menulis surat. Semenjak itu, aku suka menulis surat. Untuk orang-orang, guruku, kakakku sendiri, teman-teman terdekatku, teman lamaku, dan banyak lagi. Terkadang, kawan kawan memintaku untuk membuatkan surat untuknya. Biasanya ditujukan untuk teman lawan jenis maupun orang tua. Agaknya mereka suka membacanya. Sering sekali, suratku dipakai dengan nama orang lain. Merekalah kemudian yang dipuji, dan aku tidak. Tidak penting bagiku. Itu hanyalah ladang bagiku untuk menulis. Lagipula, siapa tau? Surat itu tertulis bukan atas namaku. That’s the secret.

Hampir semua yang membaca suratku merasakan pergulatan emosi. Bahagia, berkhayal, menangis, dan belajar. Aku menuliskan tanda-tanda Tuhan dalam setiap suratku. Termasuk ketika menuliskan surat untuk adik-adikku, anak-anak peradaban. Pernah sekali aku menulis surat untuk seorang ibu dari temanku di Kalimantan. Kami masih studi di Gontor. Ketika dikirim, ibunya masih mengajar di sekolah. Ketika membaca suratnya, sontak ia menangis. Kemudian ia tunjukkan pada guru-guru yang lain. Semuanya ikut menangis dan terkesima. Semua orang mengkopi surat tersebut. Katanya indah. Who knows?

Aku masih bermimpi. Dan akan terus bermimpi.

Aku belajar banyak hal dalam pengembaraan. Berharap punya arti dalam kehidupan. Memberi manfaat, menebarkan pengetahuan. Bagiku, kebahagiaan orang lain sama pentingnya dengan kebahagiaanku sendiri. Aku ingin menjadi guru, yang memberi masa depan. Mengajarkan murid-muridnya untuk bermimpi

Aku bertolak ke luar negri.

Orang tuaku ingin aku belajar hukum islam, fiqh. Di universitas tempatku belajar, aku mengambil fakultas Sharia and Law, hukum islam dan  hukum umum. Dua sekaligus. Beberapa hari lalu, aku menetapkan visi baru. Aku ingin menyibukkan diriku dalam ilmu, menjadi seorang Guru Besar ilmu fiqh dan ilmu hukum. Sekaligus praktisi hukum yang jujur dan bersih. Kata seseorang, seperti Bapak Mahfudz MD, ketua Mahkamah Konstitusi. Dia bilang, aku harus menemuinya ketika tiba di tanah air kelak.

Aku juga bermimpi mempunyai sekolah. Sekolah di seluruh nusantara. Berasas islam, berstandar internasional. Sekolah untuk kampung-kampung, daerah terbelakang. Di belahan dunia yang belum terjamah. Indonesia timur bahkan Afrika. Aku ingin mereka punya mimpi. Punya masa depan. Aku suka ilmu, suka bergelut di dalamnya. Berharap suatu saat, punya perpustakaan muslim terlengkap se-Asia Tenggara. Those are my dreams, my vision.

Dengan bertambah usia, aku realistis. Menatap masa depan. Fokus.

Tetapi menulis, always in my heart. Terus menjaga kotak sihirku, di sini, bersamaku. I will write people, children, student, my young brothers, and dreamers.

What about you?

Islam Aabaad, March 19, 2012

Zf_jihwamuni_24

Ditulis setelah mengikuti training Time Management, bersama Dr. Hendri Tandjung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s